Sabtu, 28 April 2012

Teori Organisasi Umum 2 Tugas 3

Diposting oleh Ryanti Ramadani di 4/28/2012 05:10:00 AM

Nama                   : Ryanti Ramadani
NPM                     : 16110311
Kelas                    : 2KA24
Tugas                  : Teori Organisasi 2

TUGAS 3
1.       Jelaskan pengertian dan konsep pendapatan !
         Jika membahas tentang ekonomi, sudah pasti kita juga akan berhubungan dengan pendapatan. Di bawah ini akan dijelaskan tentang pegertian pendapatan dan konsep pendapatan, Metode Perhitungan Pendapatan Nasional, dan masalah-masalah dan keterbatasan dalam perhitungan PDB.
-  Pengertian
           Pendapatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam setiap perusahaan. Tanpa ada  pendapatan mustahil akan didapat penghasilan atau earnings. Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dikenal atau disebut penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen,royalti dan sewa.
Dalam literatur akuntansi terdapat beberapa pengertian atau definisi pendapatan, antara lain adalah:
Menurut Niswonger (1992:22), pendapatan adalah jumlah yang ditagih kepada pelanggan atas barangataupun jasa yang diberikan kepada mereka.
Pada buku yang sama, Niswonger (1992:56) juga menjelaskan pengertian pendapatan sebagai berikut:
Pendapatan atau revenue merupakan kenaikan kotor atau gross dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan, pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewa harta, peminjam uang, dan semua kegiatan usaha serta profesi yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan.
Menurut PSAK nomor 23 paragraf 6 adalah sebagai berikut:
Pengertian Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Menurut Accounting Terminology Bulletin No. 2 yang dikutip dalam buku Harahap (1999:39):
Pengertian Pendapatan berasal dari penjualan barang dan pemberian jasa dan diukur dengan jumlah yang dibebankan kepada langganan, klaim atasbarang dan jasa yang disiapkan untuk mereka. Juga termasuk laba daripenjualan atau pertukaran asset  (kecuali dari surat berharga), hakdividen dari investasi dan kenaikan lainnya pada equity pemilik kecualiyang berasal dari modal donasi dan penyesuaian modal.
- Konsep Pendapatan
          Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.
Konsep – konsep Pendapatan :
*) Produk Domestik Bruto (GDP)
              Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
*) Produk Nasional Bruto (GNP)
             Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
*) Produk Nasional Neto (NNP)
             Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebutreplacement).Replacement penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.
*) Pendapatan Nasional Neto (NNI)
             Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.
*) Pendapatan Perseorangan (PI)
           Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer paymentadalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).
*) Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
             Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.
http://www.scribd.com/doc/74567136/25/B-Metode-Perhitungan-Pendapatan-Nasional

2.       Apa yang anda ketahui dengan Metode Perhitungan Pendapatan Nasional ?
Konsep pendapatan nasional dapat dihitung menggunakan 3 pendekatan yaitu :
·         Pendekatan Produksi
Menurut metode ini pendapatan nasional atau PDB yaitu total output(produksi) yang    
dihasilkan oleh masyarakan dalam perekonomian suatu Negara. Dalam prakriknya yaitu 
dengan membagi perekonomian menjadi beberapa sector produksi. Jumlah ouput setiap 
sector merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja, ada kemungkinan 
bahwa output yang dihasilkan suatu sector perekonomian berasal dari output sector lain 
atau merupakan input bagi sector ekonomi yang lainnya. Untuk mengetahui besarnya 
nilai tambah, digunakan rumus sebagai berikut :
Nilai tambah = nilai output – nilai input
            ·         Pendekatan pendapatan
Pendapatan nasional menurut metode pendapatan memandang nilai output 
perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunakan dalam
proses produksi.untuk memproduksi output dibutuhkan input berupa tenaga kerja, 
barang modal, dan uang. Pendapatan Nasional menurut pendekatan pendapatan dapat 
dirumuskan sebagai berikut:
Pendapatan nasional = pendapatan sewa + upah + pendapatan bunga + keuntungan.
            ·         Pendekatan pengeluaran
                Yaitu nilai total pengeluiaran dalam perekonomian selama periode tertentu. Menurut 
                metode ini ada beberapa jenis pengeluaran agregat dalam suatu perekonomian, yaitu 
                konsumsi rumah tangga, pengeluaran investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor 
                neto.
http://www.scribd.com/doc/74567136/Buku-SMA-Kelas10-Ekonomi-Bambang-w-cintayasir

3.      Apa saja masalah-masalah dan keterbatasan dalam perhitungan PDB?
Adapun masalah-masalah dan keterbatasan dalam perhitungan PDB yang harus dihadapi adalah sebagai beriktu :
            ·         Perhitungan PDB dan Analisa Kemakmuran
                       Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran 
               suatu negara, dengan cara membaginya dengan jumlah penduduk (disebut PDB per 
               kapita). Menurut PBB, sebuah negara dikatakan miskin bila PDB per kapitanya lebih kecil 
              daripada US$ 450,00. Berdasarkan standar ini, maka sebagian besar negara-negara di 
              dunia adalah negara miskin. Suatu negara dikatakan makmur/kaya bila PDB perkapita lebih
              besar daripada US$ 800.
                       Kelemahan dari pendekatan di atas adalah tidak memperhatikan aspek distribusi 
              pendapatan. Akibatnya angka PDB per kapita kurang memberikan gambaran rinci tentang
              kondisi kemakmuran suatu negara. Misalnya, walaupun Amerika Serikat yang PDB 
              perkapitanya US$ 29.080 (tahun 1997), namun negara itu masih terus bergelut dengan
             masalah kemiskinan dan pengangguran, terutama di kalangan warga kulit hitam ataupun
             pendatang (kulit berwarna). Bahkan secara absolut tampaknya jumlah penduduk miskin di
             Amerika serikat akan bertambah.
                      Faktor utama pemicu gejala di atas adalah masalah distribusi pendapatan. Walaupun

            distribusi pendapatan di USA relatif baik, tetapi belum sempurna untuk membuat seluruh
            penduduknya menjadi makmur. Bahkan untuk faktor produksi non tenaga kerja, terutama 
            uang dan modal, distribusi penguasaannya sangat buruk. Pada tahun 1996, sekitar 46% 
             aset finansial  dikuasai hanya oleh sekitar 1% penduduk.

         ·         Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial
                     Umumnya ukuran tingkat kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat pendidikan, 
           kesehatan dan gizi, kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan yang lebih baik.
           Ada hubungan yang positif antara tingkat PDB per kapita dengan tingkat kesejahteraan 
           sosial. 
                    Makin tinggi PDB per kapita, tingkat kesejahteraan sosial makin membaik. Hubungan ini 
           dapat dijelaskan dengan menggunakan logika sederhana. Jika PDB per kapita mkin tinggi, 
          maka daya beli masyarakat, kesempatan kerja serta masa depan perekonomian makin 
          membaik. Sehingga gizi, kesehatan, pendidikan, kebebabasan memilih pekerjaan dan 
          jaminan masa depan, kondisinya makin meningkat. Tapi dengan catatan, peningkatan PDB
          per kapita disertai perbaikan distribusi pendapatan.
                   Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak diperhatikannya dimensi 
          nonmaterial. Sebab PDB hanya menghitung output yang dianggap memenuhi kebutuhan
          fisik/ materi yang dapat diukur dengan nilai uang. Sedangkan output yang tidak terukur 
         dengan uang, misalnya ketenangan batin yang diperoleh dengan menyandarkan hidup pada
         norma-norma agama/spiritual tidak dihitung. Sebab, dalam kenyataannya kebahagiaan tidak
         hanya ditentukan oleh tingkat kemakmuran, tetapi juga ketenangan batin.
                 Jadi kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa kesejahteraan sosial di negara-negara
         kaya(Amerika Serikat dan Jepang) adalah jauh lebih baik dibanding di negara-negara miskin
         (misal Bhutan dan Nepal). Karena, tingkat kejahatan dan tingkat bunuh diri di negara-negara
         kaya tersebut lebih tinggi di banding negara-negara miskin.

       ·         PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
         Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antar negara, ada beberapa hal yang perlu

                 dipertimbangkan:
1.    Jumlah dan komposisi penduduk : Bila jumlah penduduk makin besar, komposisi-nya sebagian besar adalah penduduk usia kerja (15-64 tahun) dan berpendidikan tinggi (> SLA), maka tingkat output dan produktivitasnya dapat makin baik.
2.    Jumlah dan struktur kesempatan kerja : Jumlah kesempatan kerja yang makin besar memperbanyak penduduk usia kerja yang dapat terlibat dalam proses produksi. Tetapi komposisi kerja pun mempengaruhi tingkat produktivitas. Sekalipun kesempatan kerja sangat besar, tetapi semuanya adalah kesempatan kerja sektor pertanian, produktivitas pekerja juga tidak tinggi. Sebab sektor pertanian umumnya memiliki nilai tambah yang rendah. Jika kesempatan kerja yang dominan berasal dari sektor kegiatan ekonomi modern (industri dan jasa), maka output per pekerja akan relatif tinggi, karena nilai tambah kedua sektor tersebut amat tinggi.
3.    Faktor-faktor nonekonomi : Yang tercakup dalam faktor-faktor nonekonomi antara lain etika kerja, tata nilai, faktor kebudayaan dan sejarah perkembangan. Jepang pantas menjadi negara yang produktif sebab selain jumlah penduduk yang banyak, berpendidikan tinggi dan umumnya bekerja di sektor modern, mereka juga memiliki etika kerja yang baik, menjujung tinggi kejujuran dan penghargaan tergadap senior. Dan Jepang juga merupakan negara yang selama kurang lebih 3.000 tahun terus menerus membangun dirinya menjadi bangsa modern, walaupun pembangunan ekonomi modernnya baru dimulai dua abad yang lalu.
           ·         Penghitungan PDB dan Kegiatan-kegiatan Ekonomi Tak Tercatat (Underground Economi)
                      Angka statistik PDB Indonesia yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik hanya 
              mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu, statistik PDB belum 
              mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu negara. Misalnya, upah pembantu 
              rumah tangga di Indonesia tidak tercatat. Begitu juga dengan kegiatan petani buah yang 
              langsung menjual produknya ke pasar.
                      Di negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih 

              disebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi masih 
              didominasi oleh kegiatan pertanian dan informal. Tetapi di negara-negara maju, 
              kebanyakan kegiatan ekonomi yang tak tercatat disebabkan oleh karena kegiatan 
              tersebut merupakan kegiatan ilegal atau melawan hukum. Padahal, nilai transaksinya 
              sangat besar. Misalnya, kegiatan penjualan obat bius dan obat-obat terlarang lainnya.
http://www.scribd.com/doc/86287842/PENDAPATAN-PERHITUNGAN


0 komentar:

Posting Komentar

 

My blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review